Berpisah

by - January 03, 2017

Dari kemarin kayaknya sisi melankolis saya lagi dominan. Bawaan lagi PMS juga mungkin. Yah, wanita memang unik yaa, sebentar-sebentar nangis sedetik kemudian ketawa lagi. Beberapa hari ini juga sempet mikir, kalau ada perpisahan sebenernya lebih sedih yang ditinggalkan atau yang meninggalkan? Kayak jumat pagi kemarin sempet sedih banget karena denger kabar kalau Banda Neira bubaran. Yang ditinggal -fans macem saya maksudnya- aja sesedih itu, apalagi mereka yang ngambil keputusan untuk bubaran, pasti lebih gak gampang.

Tapi percaya gak percaya apa yang kita jalani saat ini sebenernya sudah ada dalam rencanaNya, bahkan jauh sebelum kita terlahir di dunia. Cuman ya namanya manusia, banyak galaunya, lebih banyak lagi gak terimanya. Hahaha

Saya bukan orang yang suka dengan perpisahan -dan mungkin gak ada yang suka ya-. Ingat dulu waktu pertama kali merantau kuliah di Bandung sempet galau dan mewek berhari-hari karena harus jauhan dari ibu, dari keluarga. Rasanya belum pernah perjalanan di kereta sesedih itu tapi ternyata setelahnya bisa dijalani dengan suka cita bersama teman-teman baru di sana, walaupun ada aja pasang surutnya. Perpisahan dengan teman-teman di kantor lama juga sama sedihnya, baru enam bulan sama-sama dan baru banget dapet momen deketnya, eh ternyata saya harus pindah. Sedihnya bukan karena kerjaan barunya sih, tapi lebih ke rasa nyaman yang udah tercipta. Mungkin itu rasanya ya, harus pergi disaat lagi sayang-sayangnya. *asek*

Kalaupun harus terpisah, sudah seharusnya berlapang dada. Sambil tetap berprasangka baik, karena kata orang, perpisahan itu tidak sejatinya memisahkan, ia hanya memberikan jarak untuk pertemuan-pertemuan yang lain.

You May Also Like

0 comments