Pertanyaan Tentang Jodoh dan Pekerjaan Mapan

by - October 16, 2016

"Usiamu sudah berapa?"
"26", jawabku.
"Mengapa belum menikah juga? Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, pikirkan juga masa depan." -dan berlanjut dengan nasihat bla-bla-bla-

Di usia yang menginjak 25, biasanya pertanyaan seputar jodoh dan pekerjaan yang mapan akan lebih sering didengar frekuensinya. Entah dari orang yang benar-benar peduli, atau hanya sekedar ingin tahu tentang kehidupan pribadi kita. Lucky me, saat ini saya sudah mendapatkan pekerjaan yang cukup baik, jadi kalaupun tiba-tiba ada yang menanyakan tentang pekerjaan, saya akan dengan mudah menjelaskan tanpa ada perasaan kurang nyaman. Tapi mungkin akan beda rasanya dengan yang dirasakan teman saya yang saat ini belum memiliki pekerjaan tetap. Betapa sakit perasaannya ketika ditanya tentang pekerjaan, dan dia harus menjelasan bahwa belum mendapat pekerjaan yang tetap -bahkan mungkin kadang menganggur-, dan setelahnya dia harus mendengar nasihat bahwa dia harus lebih bekerja keras dibubuhi dengan nyiyiran lain yang memerahkan telinga, misalnya "Masak lulusan cumlaude susah cari kerja. Jangan terlalu pilih-pilihlah! " dan pasti masih banyak lagi kalimat sok tahu lainnya. Andai orang-orang itu tahu bagaimana ikhitiar si teman ini. Andai mereka tahu disetiap sujud malamnya dia selalu menangis memohonkan agar Allah memperlancar rizqi-Nya. Andai mereka tahu berapa banyak lamaran kerja yang sudah diapply-nya namun belum satupun yang lolos dan dapat memuaskan dirinya. Tapi dia tidak putus asa. Dia percaya bahwa rizqi itu adalah ketetapanNya. Sekuat apapun usahanya, jika rizqi itu tidak ditakdirkan untuknya maka selamanya tidak akan pernah menjadi miliknya.

Begitu juga jodoh yang selalu disangkutpautkan dengan usia. Hey, meskipun usia 26 bukan lagi usia anak-anak tapi 'kan juga belum terlalu tua 'kan? Memang kalau dibandingkan dengan ibunda dulu menikah di usia 24 -masih disambi kuliah dan kerja-, saat ini saya lebih tua. Tapi bukankah jodoh itu sudah ada yang mengatur? Dan nama si "dia" sudah dituliskan-Nya di Lauh Mahfudz bahkan sejak kita baru empat bulan di kandungan ibunda. Jadi untuk apa diresahkan? Tapi jujur, sebagai manusia biasa kadang saya merasa risih bahkan sampai kesal dan down jika ada yang mulai sok tahu menasehati saya -atau lebih banyak nyinyirnya- ini itu tentang pernikahan. "Inget umur.. Jangan terlalu pilih-pilih" atau "Turuninlah itu standardnya, cowok-cowok pada minder itu sama kamu" bahkan sampai yang menyangkut pautkan orang lain seperti "Buruan nikah, jangan kayak si itu ya yang sampe sekarang gak nikah-nikah". Kalau sudah begitu ingin rasanya sumpel mulut mereka satu-satu. "Padahal kalau dilihat juga kehidupannya gak perfect-perfect amat, udah usil aja ngomentari hidup orang lain kayak hidupnya udah paling bener", -sering saya ngedumel begitu dalam hati, tapi kalau lagi bener cuman bisa istighfar sambil tetep positif thinking kalo mereka begitu karena mereka peduli, bukan cuma nyinyir-. 

Tapi terlepas dari itu, daripada sok tahu menasehati ini itu, bukankah lebih baik mendoakan? Atau mungkin membantu mencarikan seseorang yang memang pantas dan layak, bukan malah menyuruh untuk menurunkan standard. Ada satu kutipan dari blognya Nadhira (http://www.nadhiraarini.com) yang sedang memberi nasihat kepada sahabatnya yang sedang galau mengapa jodohnya tak kunjung datang padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga memantaskan diri. Apa benar kata orang bahwa dia terlalu tinggi untuk digapai? Apakah dia memang harus menurunkan standard lelaki impiannya? Kira-kira begini nasihat dari Nadhira untuk temannya itu, “Berdoalah dengan keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan oleh Allah. Lalu mintalah kepada-Nya agar kamu dapat menerima segala keputusan yang Allah berikan kepadamu dengan lapang dada. Jadi, ketika banyak pria beralasan kamu terlalu tinggi atau apapun, biarkanlah mereka dengan pendapatnya. Jangan terlalu fokus kepada pria seperti itu, jangan pernah menurunkan standar doamu, yakinlah kepada Allah seratus persen, bahwa kamu pantas mendapatkan pria yang jauh berkali-kali lipat lebih baik dibandingkan pria yang hanya bisa mengeluh dan beralasan bahwa kamu terlalu tinggi - remember, you just need a man with bigger hands, Dear. Suatu saat akan datang pria, yang datang dengan segala kegagahan luar biasa, yang mampu meyakinkan ayahmu, yang paling tampan rupa dan akhlaknya, yang paling luas rezeki juga ilmunya dan yang terpenting ia adalah seorang pria yang sanggup membawa mahkota dengan berlian indah yang sudah kamu buat ketika memantaskan diri, lalu menaruh mahkota itu perlahan ke atas kepalamu.”. Intinya adalah tetap mengisi waktu-waktu penantian dalam ketaatan, karena mungkin sekarang dia juga sedang mempersiapkan diri untuk datang.

You May Also Like

0 comments