[Review Book] Sabtu Bersama Bapak

by - September 02, 2014

Hallo! 
Akhirnya bertemu lagi setelah lama tidak beredar di dunia tulis menulis. Dan hari ini saya akan sedikit mereview 1 buku yang menurut saya highly recomended terutama untuk calon suami, calon istri, calon ibu, calon bapak, dan untuk anak-anak yang mau berbakti sama orangtuanya.


Ini adalah satu buku karangan Adhitya Mulya yang berjudul Sabtu Bersama Bapak. Saya tertarik untuk membaca buku ini karena beberapa kali melihat buku ini dipromosikan oleh teman-teman saya di path. Dan ternyata benar, buku ini benar-benar layak untuk direkomendasikan karena tidak hanya menceritakan tentang romantisme, tapi juga tentang keluarga, tentang kehidupan.

Buku ini menceritakan tentang kisah seorang bapak bernama Gunawan Garnida yang sadar bahwa umurnya tidak akan lama lagi dan Pak Gunawan tidak ingin kedua anaknya, Satya dan Cakra, kehilangan sosok panutan dari dirinya. Ia dan istrinya Itje kemudian membuat project video di sisa waktu yang dimilikinya sebelum meninggal dengan tujuan agar video-video tersebut dapat selalu menemani dan menjadi teman anak-anaknya Satya dan Cakra nantinya. Ia ingin anak-anaknya tumbuh tanpa harus kehilangan sosok dirinya. Dari video-video tersebutlah, Cakra dan Satya belajar mengenai cinta, keluarga dan kehidupan.

Dalam buku ini juga diceritakan tentang Satya -si anak sulung dari keluarga Garnida- yang memiliki tiga orang anak laki-laki. Sebelumnya Satya adalah tipikal suami dan ayah yang tempramental, tapi dia mulai belajar menjadi ayah yang lebih baik dengan nasihat-nasihat di video ayahnya. "Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua untuk semua anak.”

Perjuangan Cakra si bungsu -yang disebut sebagai fakir asmara- ketika mencari cinta juga diceritakan di buku ini. "Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.” -nasihat bapak di salah satu video-nya-, dan ternyata memang perencanaan itu perlu dalam menjadi sebuah hubungan. "Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.”

Dan juga perjuangan tentang ibu Itje yang melawan sakitnya sendirian tanpa mau merepotkan anak-anaknya. "Waktu dulu kita jadi anak, kita gak nyusahin orangtua. Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak" begitu katanya.


Dan ada lagi beberapa quotes di buku ini yang saya suka,
- “Seorang anak tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung. Nanti yang sulung jadi benci sama takdirnya dan si adik tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan ."
- “Dia percaya bahwa manusia ditempatkan di dunia utuk membuat dunia lebih baik untuk sebagian orang lain. Jika pun seseorang berguna bagi 1-2 orang, orang itu sudah membuat dunia ini jadi tempat yang lebih baik”
-“Istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat. Tapi, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat.”
- “Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Tapi mimpi tanpa rencana dan action, hanya membuat istri dan anak kalian lapar. Kejar mimpi kalian. Rencanakan. Kerjakan. Kasih Deadline” 


Selamat membaca, dijamin gak akan nyesel beli dan membaca buku ini. ^^

You May Also Like

1 comments