Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi!

by - September 22, 2012

Setelah semalam menelpon ibu sambil menangis dan menceritakan semua rasa yang saya pendam, perasaan saya agak sedikit lega tapi juga kecewa. Kenapa semalam saya harus menangis sehingga membuatnya menangis juga.. Melihat air mata jatuh dari wajahnya adalah sesuatu yang tidak pernah saya inginkan. Saya ingin melihatnya selalu tersenyum, dan jangan sampai menangis karena saya. Tapi apa yang sudah saya lakukan, lagi-lagi saya membuatnya menangis karena saya. Maafkan saya ibu.. maaf sudah membuatmu menangis.. Jangan bersedih lagi bu, saya di sini sekarang sudah baik-baik saja.. :)

Entah kegalauan apa yang mengusik saya akhir-akhir ini sehingga membuat saya jadi orang yang cengeng. Salah satu sebabnya mungkin karena kewajiban Tugas Akhir yang belum tertuntaskan bercampur dengan rasa rindu dengan orang-orang terkasih di rumah. Semakin jauh dari rumah, saya menyadari bahwa orang-orang terkasih di rumah adalah harta yang paling berharga dalam hidup saya. Rindu ini menjadi indah ketika raga ini tak mampu bertemu, namun kita masih dapat dipertemukan dalam doa. Ya, doa. Saya selalu meminta doa restu dari Ayah dan Ibu di rumah, meskipun saya tahu, tanpa dimintapun nama saya dan adik-adik tak pernah luput dari untaian doa mereka.. Untuk kami, untuk kesuksesan kami.. 

Ketika rindu ini masih saja menggelayuti, saya menemukan suatu artikel yang bagus dari eramuslim.com tentang bunda yang berjudul "Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi!". Karena saya rasa  artikel ini sama dengan perasaan saya sekarang, maka saya sertakan kutipannya di postingan kali ini sambil berkaca-kaca setiap kali membacanya. Teruntuk ibu dan ayah tersayang..

Cintamu padaku, Berakar di sukma Rindangnya memenuhi jiwa Sepanjang masa
(sebuah sumber)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya, Ibunya telah mengandungnya Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ….”
(QS Luqman : 14)

Bunda, malam ini tiba-tiba saja aku mengingatmu dengan utuh. Gurat syahdumu, tulus senyummu bahkan gaya berceritamu di masa kecil. Tiba-tiba saja bayangan sosok anggunmu dengan sorot mata penuh cinta hadir dalam jeda yang panjang kemudian menghilang. Sedang apakah saat ini bunda? Membaca buku? Tadarus Al-Qur’an? Menonton televisi atau ah entahlah, aku tidak yakin apa yang sedang bunda kerjakan saat ini. Mungkin juga bunda tengah bersiap di peraduan. Malam sudah akan beranjak. Tidur bunda selalu awal. Itu yang kutau. Ah, semoga bunda baik-baik saja.

Bunda, mata ini sudah dari tadi berkabut. Orang-orang yang lalu lalang tak lagi aku pedulikan. Pandangan ini bahkan telah samar. Bening air mata mungkin sebentar lagi luruh.

Bunda, betapa aku ingin menujumu detik ini juga. Merengkuh banyak kekuatan yang seringkali engkau persembahkan ketika masalah tengah menghadang. Memetik bulir-bulir kedamaian yang selalu kau hunjamkan teguh ke kedalaman jiwa. “Bunda yakin, Allah pasti memberikan jalan atas masalahmu. Allah tahu batas kemampuanmu. Ia sudah menakarnya. Kamu yang harus yakin.”

Bunda, betapa bahagia jika saat ini engkau nyata di hadapanku, inginnya aku bersimpuh di pangkuan dan meneguk percik-percik pinta yang kau senandungkan sempurna kepada Allahu Rabbana. “Semoga anak bunda jadi anak yang shalihah, pintar dan mendapat pendamping hidup yang shalih”, “Semoga kamu, nak, sehat dan diberikan rezeki yang berkah”.

Aku sayang bunda. Sungguh. Meski aku tahu sayang ini hanya seujung kuku dari bentang cakrawala cinta terindahmu. Meski sangat nyata rindu ini hanya setitik kecil di samudera penantianmu. Meski sangat jelas, ingatan kepada bunda bukanlah apa-apa dibanding semua yang bunda lakukan. Pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujud bunda, bahkan air mata kesedihan. Tak tertebus. Tanpa batas. Semoga Allah sajalah yang membalas itu semua. Surga.

Bunda, sudah berapa lama kita tidak bertemu. Rindu padamu bunda, membumbung tinggi. Bunda, perkenankan aku bersimpuh dari jauh. Dalam gundah. Dalam lelah. Di setiap detak tak tentu. Serta dalam degup yang menderu. Ingin kusampaikan untai kata ini di gendang telinga mu “Bunda, rindu ini melangit lagi!”

You May Also Like

0 comments